Jalan Merdeka (Pusat Kota Pematangsiantar)/Jalan Medan, Kecamatan Siantar Martoba. Foto: Tim Redaksi Visionkreatif.com
Visionkreatif.com – Pematangsiantar. Hujan deras yang mengguyur Pematangsiantar pada Senin sore hingga malam (20/04/2026) kembali memicu banjir di sejumlah ruas jalan utama dan beberapa pemukiman Warga. Meski hujan berlangsung relatif singkat, genangan air langsung meluas dan mengganggu aktivitas masyarakat di berbagai titik kota.
Pantauan di lapangan Senin, (20/04/2026) sore, menunjukkan genangan air muncul di sejumlah lokasi strategis, di antaranya, Jalan Sisingamangaraja, sekitar Jalan Sudirman, Jalan Merdeka, Kawasan Parluasan, Sekitar Pasar Horas dan sekitar jalan Medan, yang paling parah di sekitar Tanjung Pinggir atau Kecamatan Siantar Martoba. Ketinggian air bervariasi, dari genangan ringan hingga cukup dalam untuk menyebabkan, Kendaraan mogok, Kemacetan panjang, Aktivitas warga terganggu, hingga mengenangi sejumlah pemukiman di Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.
Beberapa pengendara bahkan terpaksa memutar arah akibat ruas jalan yang tidak bisa dilalui.
Hujan Beberapa Jam, Melumpuhkan Arus Lalu Lintas Di Jalan Medan
Fenomena ini kembali memperlihatkan persoalan klasik di kota ini, hujan dalam hitungan jam saja sudah cukup membuat jalan penghubung Pematangsiantar – Medan (jalan Medan) lumpuh seketika. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius terhadap, Kapasitas drainase, Kualitas infrastruktur, Pengelolaan tata ruang kota?

SALING: “Ini Bukan Lagi Soal Alam, Ini Soal Kepemimpinan”
Direktur Eksekutif Sahabat Lingkungan (SALING), Andi Simanjuntak, melontarkan kritik keras atas kondisi yang terus berulang ini.
“Ini bukan lagi soal hujan. Ini soal kegagalan menata kota. Kalau hujan beberapa jam saja sudah membuat jalan tergenang, berarti sistem drainase dan tata ruang kita bermasalah,” tegas Andi. Selasa, (21/04/2026).
Ia menilai banjir yang terus terjadi tidak bisa lagi dianggap sebagai hal biasa.
“Setiap tahun kita melihat pola yang sama. Tapi tidak ada perubahan signifikan. Kalau ini dibiarkan, titik banjir akan semakin meluas di Pematangsiantar,” ujarnya.
Andi juga secara terbuka menyoroti kepemimpinan Walikota Pematangsiantar, Wesli Silalahi yang dinilai belum
menunjukkan langkah konkret dalam penataan kota.
“Sebagai kepala daerah, berbicara tentang kota itu berbicara tentang Penataan infrastruktur, Lingkungan, dan Kenyamanan masyarakat. Tapi sampai hari ini, kami melihat belum ada terobosan nyata untuk menata Pematangsiantar lebih baik. Jangan main-main dengan jabatan ini,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi banjir yang terus berulang menjadi indikator lemahnya perencanaan.
“Dulu memang ada titik-titik rawan banjir. Tapi kalau sekarang terus bertambah, itu artinya ada pembiaran. Ini harus segera dihentikan,” lanjutnya.
SALING menilai ada sejumlah hal mendesak yang harus segera dilakukan pemerintah kota yaitu Perbaikan drainase dan gorong-gorong menyesuaikan kapasitas dengan volume air. Penataan tata ruang kota, mengontrol pembangunan dan ruang resapan, Pengelolaan lingkungan penanganan sampah yang menyumbat saluran air. Koordinasi antar dinas, termasuk Dinas PUPR dan Dinas Lingkungan Hidup.
Menurutnya, persoalan banjir tidak bisa ditangani secara parsial, melainkan harus menyeluruh.
Selain infrastruktur, kondisi lingkungan juga dinilai memperparah banjir, Sampah menumpuk di drainase, Minimnya ruang hijau, Alih fungsi lahan tanpa kontrol. Semua faktor ini mempercepat terjadinya genangan saat hujan turun.
“Banjir yang kembali menggenangi beberapa wilayah di kota Pematangsiantar bukan lagi sekadar persoalan musiman. Ini adalah sinyal kuat bahwa ada masalah serius dalam pengelolaan kota.” Ujar Andi. (*)

1 thought on “Banjir di Sejumlah Wilayah di Siantar, SALING Kritik Keras Wali Kota: Ini Kegagalan Menata Kota”
Comments are closed.