Ilustrasi. Foto: AI.
Visionkreatif.com – Pematangsiantar. Aksi unjuk rasa mahasiswa yang kembali terjadi di pusat Kota Pematangsiantar masih diwarnai dengan aksi bakar ban dan penutupan jalan utama yang menyebabkan kemacetan panjang serta keresahan bagi masyarakat pengguna jalan. Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Sahabat Lingkungan (SALING), Andi Simanjuntak, meminta agar aksi penyampaian aspirasi di muka umum dilakukan dengan cara yang lebih kreatif, edukatif, dan ramah lingkungan.
Menurut Andi Simanjuntak, kebebasan menyampaikan pendapat merupakan hak setiap warga negara dan harus dihormati. Namun dalam pelaksanaannya, aksi demonstrasi juga perlu mempertimbangkan dampak sosial, lingkungan, dan kenyamanan masyarakat luas.
“Kami sangat mengapresiasi mahasiswa di Kota Pematangsiantar yang sampai hari ini masih memiliki kepedulian dan keberanian untuk turun ke jalan menyampaikan kritik kepada pemerintah. Itu merupakan bentuk kontrol sosial yang penting dalam demokrasi,” ujar Andi.
Meski demikian, Andi menilai aksi bakar ban di tengah jalan sudah seharusnya mulai ditinggalkan karena menimbulkan polusi udara, mengganggu kesehatan masyarakat, dan menciptakan kesan intimidatif di ruang publik.
“Penyampaian aspirasi tidak harus selalu identik dengan asap hitam, pembakaran ban, ataupun penutupan total jalan. Mahasiswa bisa menghadirkan aksi yang lebih kreatif seperti teatrikal, pertunjukan seni, pembacaan puisi kritik sosial, instalasi visual, hingga aksi simbolik yang tetap kuat pesannya namun tidak merugikan masyarakat dan lingkungan,” katanya.
Ia juga menyoroti aksi pemblokiran total jalan di inti kota yang kerap membuat aktivitas masyarakat lumpuh, terutama pengendara, pelaku usaha, hingga kendaraan darurat yang melintas.
“Kita harus menghargai hak masyarakat pengguna jalan. Jangan sampai masyarakat yang sebenarnya mendukung perjuangan mahasiswa justru merasa terganggu karena akses jalan ditutup total. Harusnya tetap diberikan ruang atau akses bagi kendaraan untuk melintas agar penyampaian aspirasi berjalan tertib dan tidak menimbulkan keresahan,” lanjutnya.
SALING menilai bahwa gerakan mahasiswa di era modern seharusnya mampu menjadi contoh aksi intelektual yang humanis dan beradab. Selain menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, mahasiswa juga diharapkan mampu menunjukkan kepedulian terhadap isu lingkungan hidup dan ketertiban umum.
“Aksi demonstrasi yang baik bukan hanya keras dalam tuntutan, tetapi juga cerdas dalam metode penyampaiannya. Ketika mahasiswa mampu menyampaikan kritik tanpa merusak lingkungan, tanpa menciptakan polusi, dan tanpa mengganggu masyarakat secara berlebihan, maka pesan moralnya justru akan lebih kuat dan mendapat simpati luas,” tegas Andi Simanjuntak.
Ia berharap ke depan pola-pola aksi demonstrasi di Kota Pematangsiantar dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih modern, kreatif, dan tetap menjaga nilai-nilai ketertiban serta kepedulian terhadap lingkungan hidup. (*)
