Banner Sahabat Lingkungan (SALING). Dok. Istimewa.
Visionkreatif.com – Simalungun. Momentum perayaan hari jadi Kabupaten Simalungun yang telah memasuki usia ratusan tahun yaitu 193 Tahun, kembali menjadi sorotan tajam dari kalangan masyarakat sipil. Sahabat Lingkungan (SALING) menilai peringatan tersebut seharusnya tidak hanya menjadi seremoni, melainkan refleksi atas kondisi riil daerah, khususnya terkait ekonomi, pertanian, dan lingkungan. Rabu, (15/04/2026).
Direktur Eksekutif SALING, Andi Simanjuntak, menyampaikan kritik keras terhadap arah pembangunan di Kabupaten Simalungun yang dinilai belum menyentuh akar persoalan masyarakat.
“Hari jadi ini harusnya jadi momentum evaluasi. Faktanya, ekonomi masyarakat masih lemah, sektor pertanian semakin tertekan, dan kerusakan lingkungan justru makin parah,” tegas Andi dalam keterangannya.
SALING menyoroti kondisi hutan di wilayah Simalungun yang dinilai semakin kritis dan kehilangan fungsi ekologisnya sebagai penyangga kehidupan. Hutan yang seharusnya menjadi sumber mata air kini tidak lagi mampu mengaliri lahan pertanian.
Dampaknya, banyak lahan pertanian basah yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi warga beralih menjadi lahan kering karena kekurangan pasokan air.
“Ketika hutan rusak, sumber air hilang. Ini bukan hanya isu lingkungan, tapi langsung berdampak pada ekonomi masyarakat. Petani kehilangan hasil, dan ketahanan pangan daerah ikut terancam,” ujar Andi.
Kondisi tersebut disebut telah memicu penurunan produktivitas pertanian, yang berimbas langsung pada pendapatan masyarakat. SALING menilai pemerintah daerah belum menunjukkan langkah strategis dalam mengatasi persoalan ini secara menyeluruh.
Alih fungsi lahan dari sawah menjadi lahan kering dinilai sebagai indikator nyata krisis ekologis yang berdampak sistemik.
Selain persoalan lingkungan, SALING juga mengkritik pola perayaan hari jadi Kabupaten Simalungun yang dinilai cenderung menghabiskan anggaran besar tanpa dampak signifikan bagi masyarakat.
“Merayakan itu penting, tapi jangan hanya seremonial dan menghabiskan anggaran. Harus ada manfaat nyata yang dirasakan masyarakat,” tegas Andi.
Sebagai solusi, SALING mendorong agar perayaan hari jadi dijadikan momentum gerakan nyata pelestarian lingkungan.
Beberapa program yang diusulkan antara lain:
• Gerakan massal penanaman pohon di kawasan hutan lindung
• Aksi bersih-bersih lingkungan secara serentak
• Edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem
• Pemulihan kawasan hutan sebagai sumber air
Menurut SALING, langkah-langkah tersebut tidak hanya berdampak langsung bagi lingkungan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi keberlangsungan ekonomi masyarakat.
Perayaan hari jadi Kabupaten Simalungun pun kini dihadapkan pada pilihan: tetap menjadi seremoni tahunan, atau bertransformasi menjadi momentum perubahan nyata bagi masa depan daerah. (*)
