Seorang petani berdiri di areal persawahan yang mengalami kekeringan akibat kerusakan bendungan irigasi di Rantau Panjang, Merangin, Jambi, Minggu (28/7/2024). Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO
Visiokreatif.com – Jakarta. Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap bahwa perubahan iklim telah membuat tiga perempat atau lebih dari separuh daratan di Bumi mengalami kekeringan secara permanen dalam beberapa puluh tahun mendatang.
Temuan ini diungkap dalam laporan terbaru UN Convention to Combat Desertification (UNCCD). Laporan berjudul “The Global Threat of Drying Lands: Regional and global aridity trends and future projections” menyebut bahwa selama 30 tahun terakhir, 77,6 persen daratan di Bumi mengalami kondisi yang lebih kering dibandingkan 3 dekade terakhir.
Selama periode tersebut, jumlah tanah yang mengering meluas menjadi 4,3 juta kilometer persegi atau sekitar 40 persen daratan di Bumi (lebih besar dari luas India), tidak termasuk Antartika. Lebih dari 30 persen manusia atau sekitar 2,3 miliar orang kini tinggal di daerah kering tersebut.
Jika tren ini terus berlanjut, lima miliar orang diprediksi akan hidup atau berusaha hidup di dataran kering pada akhir abad ini. Kini, ada jutaan orang yang berusaha pindah dari daerah yang semakin gersang ke wilayah lembap, sayangnya negara-negara yang tidak terlalu terdampak tidak memberikan ruang bagi mereka.
Daratan yang mengering terjadi akibat berbagai faktor. Ketika perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu di seluruh dunia, air lebih mudah menguap dari permukaan, dan diserap oleh atmosfer. Ini mendorong daratan Bumi semakin kering, secara permanen mengubah hutan yang dulunya hijau menjadi padang rumput, wilayah lembap menjadi gersang dengan dampak serius untuk pertanian, ekosistem alam, dan manusia.
Masalah ini diperparah dengan pembukaan lahan dan penggunaan sumber air tanah berlebihan. Teman studi mereka mengungkap, kekeringan ini akan memengaruhi 40 persen lahan dan 2,3 miliar orang di seluruh dunia, menyebabkan kebakaran hutan semakin parah, gagal panen, dan memicu migrasi massal.
Adapun daerah yang paling terdampak meliputi: hampir seluruh Eropa, Amerika Serikat bagian barat, Brasil, Asia Timur, dan Afrika Tengah.
“Namun, dengan merangkul solusi inovatif dan membina solidaritas global, umat manusia dapat bangkit untuk menghadapi tantangan ini. Pertanyaannya bukanlah apakah kita memiliki alat untuk merespons, tapi apakah kita memiliki kemauan untuk bertindak.” Tutupnya. (*)
